LUBUKLINGGAU — Seguntang.com- Sebuah tugu yang baru tiga minggu selesai dibangun dengan anggaran diperkirakan mencapai Rp200 juta di kawasan Jalan Kenangan II, Kota Lubuklinggau roboh setelah tersenggol truk angkutan kerupuk.
Insiden ini sontak memantik kemarahan publik dan menimbulkan dugaan kuat bahwa proyek tersebut dibangun asal-asalan dan jauh dari standar konstruksi yang semestinya.
Tugu yang dikerjakan oleh CV Bos Muda Kontraktor itu seharusnya menjadi ikon kawasan. Namun ironisnya, bangunan yang menelan uang rakyat ratusan juta rupiah justru tumbang hanya karena senggolan kendaraan ringan.
Warga pun mempertanyakan: apakah tugu ini dibangun dari beton atau dari kebohongan?
Berdasarkan informasi di lapangan, robohnya tugu diduga kuat akibat pondasi yang lemah dan konstruksi yang tidak memenuhi standar teknis.
Beberapa warga mengungkapkan bahwa sejak awal pembangunan, kualitas pengerjaan sudah terlihat mencurigakan.
“Kalau bangunan ratusan juta cuma kena senggol truk langsung roboh, ini bukan kecelakaan. Ini kegagalan total,” kata seorang warga (MN) Senggol dengan nada kesal.
Proyek Rakyat, Tapi Mutu Seperti Proyek Mainan
Anggaran hampir Rp200 juta yang bersumber dari uang publik kini dipertanyakan.
Di tengah sulitnya ekonomi masyarakat dan banyaknya infrastruktur yang rusak di Lubuklinggau, uang sebesar itu justru menghasilkan sebuah bangunan yang tidak mampu bertahan bahkan sebulan.
Muncul dugaan kuat bahwa proyek ini dikerjakan tanpa pengawasan yang memadai, atau lebih buruk lagi, dibiarkan dikerjakan sembarangan. Hal ini membuka ruang bagi praktik pengurangan mutu, penghematan material, dan permainan anggaran.
PU dan Pemerintah Daerah Dipertanyakan
Sorotan tajam kini mengarah ke Dinas Pekerjaan Umum (PU) dan pihak pemerintah daerah. Sebagai penanggung jawab teknis dan pengawas proyek, publik bertanya:
Di mana fungsi pengawasan?
Mengapa bangunan dengan dana besar bisa lolos uji kelayakan?
Jika proyek seperti ini bisa berdiri dan lolos pemeriksaan, maka patut diduga ada pembiaran sistematis atau pengawasan yang hanya formalitas di atas kertas.
Desakan Audit dan Tindakan Hukum
Warga dan aktivis kini mendesak agar proyek ini diaudit secara menyeluruh, mulai dari:
Perencanaan teknis
Spesifikasi material
Pelaksanaan di lapangan
Hingga proses serah terima pekerjaan
Aparat penegak hukum juga diminta turun tangan untuk menyelidiki apakah ada indikasi korupsi, mark-up, atau rekayasa laporan pekerjaan.
Jika terbukti ada pelanggaran, maka kontraktor dan pejabat yang terlibat harus bertanggung jawab, bukan hanya memperbaiki tugu, tetapi juga mengembalikan uang rakyat.
Simbol Bobroknya Pengelolaan Proyek Publik ujar Warga (MN)
Runtuhnya tugu ini bukan sekadar bangunan yang ambruk. Ia adalah simbol runtuhnya integritas dalam pengelolaan proyek publik di Lubuklinggau
Ketika proyek bernilai ratusan juta rupiah tak mampu bertahan dari senggolan truk, maka yang roboh bukan hanya beton — tapi juga kepercayaan rakyat.
Moga saja pihak Dinas terkait bisa memanggil kontraktor selaku pemborong proyek tersebut untuk di mintai pertanggungjawaban nya, kami selaku masyarakat sangat menyayangkan bangunan tugu atau gapura kota kualitas nya seperti itu, semoga para aktivis kota Lubuklinggau melaporkan ke APH untuk tindak lanjut hal ini tutup (MN).**


