Tentang Dua Jalan, dan Pilihan yang Tak Pernah Netral (Monolog Renungan Perjuangan)

Opini115 Dilihat

Aku hidup di sebuah tanah

yang terlalu lama diajari cara menunduk.

Tanah yang subur,

namun sering dipanen oleh tangan yang tak pernah menanam.

Di tanah ini, dua nama kerap disebut.

Bukan karena mereka berkuasa,

tetapi karena mereka memilih jalan yang berbeda.

Yang pertama bernama Jepun.

Jepun tidak lahir dari kenyamanan.

Ia tumbuh dari debu jalanan,

dari keringat orang-orang yang bekerja tanpa pernah merasa cukup.

Ia belajar lebih dulu tentang lapar

sebelum mengenal arti takut.

Ketika beban ditambahkan tanpa alasan,

ia berdiri di depan.

Ketika suara diminta diam,

ia memilih bicara.

Bagi Jepun, hidup bukan tentang selamat.

Hidup adalah tentang tidak berdamai dengan ketidakadilan.

Orang-orang menyebutnya pembela.

Bukan karena ia paling kuat,

tetapi karena ia menolak menjual nurani saat banyak orang memilih aman.

Di jalan lain, ada nama yang tak kalah sering dipanggil: Beken.

Beken bukan orang asing.

Ia berbicara dengan bahasa yang sama,

tersenyum dengan wajah yang akrab.

Namun langkahnya selalu berbelok

ke arah yang menjanjikan perlindungan dan kuasa.

Ia pandai membaca ketakutan,

pandai menanam curiga.

Hari ini ia membelah kebersamaan,

besok ia menabur kabar yang saling mencurigakan.

Katanya demi ketertiban,

katanya demi keselamatan.

Padahal yang ia jaga hanyalah posisinya sendiri.

Ia menunduk pada yang kuat.

Ia menekan yang lemah.

Dan menyebut itu semua sebagai kebijaksanaan.

Saat orang-orang mulai berdiri berdampingan,

Beken datang dengan suara pelan,

terdengar masuk akal:

“Jepun terlalu keras.

Terlalu berani.

Jalan itu berbahaya.”

Tapi aku mulai paham.

Yang benar-benar berbahaya

bukanlah keberanian,

melainkan ketakutan yang diajarkan agar kita tetap diam.

Pertemuan mereka tak bisa dihindari.

Bukan pertemuan dua orang,

melainkan pertemuan dua pilihan hidup.

Jepun berdiri tegak,

membawa keberanian yang lahir dari penderitaan bersama.

Beken berdiri gelisah,

karena hidupnya bergantung pada

selama apa orang lain tetap takut.

Dan di titik itu aku sadar:

sejarah tidak selalu ditulis oleh yang menang,

tetapi selalu mengingat siapa yang memilih berpihak.

Kekuatan bisa berganti wajah.

Kuasa bisa berpindah tangan.

Namun mereka yang mengkhianati kebenaran

demi kenyamanan sesaat

akan selalu dikenang—

bukan sebagai penyelamat,

melainkan sebagai peringatan.

Karena di tanah ini,

tidak ada pilihan yang benar-benar netral.

Diam pun adalah sikap.

Dan menunduk pun adalah keputusan.