
Pada perdagangan terakhir, minyak mentah Brent ditutup di US$72,48 per barel atau sekitar Rp1,12 juta per barel, naik 2,45 persen. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 2,78 persen ke posisi US$67,02 per barel, setara sekitar Rp1,03 juta per barel.
Jika konflik meluas dan jalur vital energi seperti Selat Hormuz tetap terganggu, harga minyak berpotensi melesat hingga US$100 per barel, atau sekitar Rp1,55 juta per barel. Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia setiap hari.
Pengamat Energi dan Ekonom dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi, menilai lonjakan harga sudah terlihat sejak serangan pertama dalam konflik Timur Tengah. Ia memperkirakan, jika eskalasi semakin luas, harga minyak bisa naik lebih tinggi lagi.
Indonesia sendiri masih mengimpor sekitar 1,2 juta barel minyak per hari. Sebagai net importer BBM, kenaikan harga minyak dunia otomatis memperbesar beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), terutama untuk subsidi energi.
Dalam situasi ini, pemerintah menghadapi pilihan sulit. Jika harga BBM subsidi tidak dinaikkan, beban subsidi akan membengkak. Namun jika dinaikkan, risiko inflasi dan penurunan daya beli masyarakat tidak bisa dihindari.
Tak hanya sektor BBM, industri berbasis gas dan energi juga berpotensi terdampak akibat kenaikan biaya produksi.
Pemerintah dinilai perlu bersikap transparan kepada publik terkait kondisi harga minyak global dan dampaknya terhadap fiskal. Selain itu, diversifikasi jalur perdagangan dan mitra ekspor menjadi langkah strategis untuk mengurangi risiko gangguan rantai pasok.
Konflik geopolitik di Timur Tengah kini bukan lagi isu regional semata. Dampaknya sudah terasa hingga ke stabilitas energi dan ekonomi Indonesia.
Sumber: Kompas

