News17 Dilihat

JANJI TINGGAL JANJI, JALAN LINTAS MUSI RAWAS–SEKAYU MAKIN HANCUR

Warga Tagih Komitmen Gubernur Sumsel dan Pemerintah Pusat

MUSI RAWAS — Janji Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru untuk memperbaiki Jalan Lintas Musi Rawas–Sekayu pada Januari 2026 kini terdengar kosong. Waktu terus berjalan, Januari telah berlalu, dan Februari di depan mata, namun kondisi jalan justru semakin memprihatinkan. Aspal hancur, lubang menganga, dan genangan air menjadi pemandangan sehari-hari di jalur vital penghubung ekonomi tersebut.

Jalan yang seharusnya menjadi urat nadi distribusi logistik kini berubah menjadi jalur maut. Hampir setiap hari, mobil angkutan terbalik, kendaraan rusak parah, dan pengendara terjebak dalam kecelakaan yang seharusnya bisa dicegah jika pemerintah menepati janjinya.

Para sopir angkutan, warga sekitar, hingga pelaku usaha mengaku sudah kelelahan menunggu realisasi. Keluhan terus disuarakan, namun yang datang bukan solusi, melainkan keheningan dari pemerintah provinsi dan pusat.

“Janji tinggal janji. Kami bukan minta jalan mulus, cukup layak dilalui. Tapi ini seperti dibiarkan hancur,” ujar salah seorang sopir truk yang mengaku mengalami kerugian jutaan rupiah akibat kerusakan kendaraan.

Kerusakan parah jalan ini bukan sekadar soal kenyamanan, melainkan menyangkut keselamatan nyawa dan kerugian material. Beberapa warga menyebut kecelakaan sudah menjadi “rutinitas harian” di jalur tersebut—ironi pahit bagi daerah yang kerap dijanjikan pembangunan.

Publik pun mempertanyakan, di mana peran pemerintah pusat? Jalan lintas ini bukan sekadar tanggung jawab daerah, tetapi bagian dari sistem transportasi nasional. Namun hingga kini, koordinasi dan tindakan nyata seolah tak kunjung terlihat.

Janji politik yang diumbar di depan publik kini berubah menjadi beban moral. Warga Musi Rawas dan pengguna jalan menagih bukan lagi wacana, melainkan aksi nyata. Setiap hari keterlambatan adalah potensi kecelakaan baru, kerugian baru, dan bukti bahwa suara rakyat masih kalah oleh birokrasi.

Jika pemerintah terus diam, maka sejarah akan mencatat: jalan ini hancur bukan karena hujan atau usia, tetapi karena janji yang dikhianati.